Mungkin karena aku anak sulung yang selalu dimanjanya sehingga aku terlalu takut dengan hal ini.
Mungkin karena aku yang selalu bersamanya dibanding adikku yang lainnya, apapun itu alasannya aku tak peduli. Sabtu itu, 15 Oktober 2015 sekitar jam 16.00 aku dijemput oleh ibuku untuk mengajakku pulang, dengan alasan yang sama dia berkata kepadaku bahwa keadaan ayahku semakin tidak memungkinkan lagi.
Sesampainya dirumah, betapa terkejudnya aku ketika melihat keadaannya saat itu, laki-laki yang kukenal selalu tersenyum dan kuat itu, terbaring tak berdaya diatas kasur dengan badan tanpa daging lagi. Ingin rasanya aku yang berada diposisinya sekarang, dan biarkan dia sehat dan tersenyum kembali.
Aku pun duduk disampingnya, dan dia berkata kepadaku,"tolong, bacakan ayat kursi untukku", aku pun segera membacakannya ketelinganya, setelah itu aku pun disuruh membacakan yaasin di telinganya sekali lagi, semua orang yang berada didalam rumahku itu pun ikut membacakan yaasin untuk ayahku.
Baru saja membaca setengah halaman, aku pun menangis tak kuat melihatnya kesakitan, berasa langkahku terhenti saat itu. Aku pun dipeluk dan tangisanku semakin kencang saat itu, yang aku takutkan aku tidak dapat melihatnya lagi untuk selamanya.
Menjelang magrib, semua tetangga dan saudara dari ayahku datang untuk menjenguknya, betapa sedihnya diriku saat itu, aku merasakan tidak ada keadilan didunia ini, aku bosan dengan semuanya, aku lelah.
Mengapa harus ayahku yang harus menderita duluan? mengapa harus aku yang merasakan semuanya? dan akhirnya terlintas dipikiranku, Apakah Allah itu adil dengan keluargaku?, aku pun langsung membuang pikiran itu, prasangka buruk itu langsung kubuang jauh-jauh.
Aku teringat perkataan seseorang, bahwasanya orang yang baik tentu banyak cobaannya. Dan aku teringat sekali lagi, Allah tidak akan menguji suatu kaum melebihi dari kemampuannya. Dan aku teringat untuk sekian kalinya, Karena Sesungguhnya yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Hari ini kulewati dengan ceria tanpa ada satu bebanpun kelihatannya, tapi bagaimana dengan hatiku yang sekarang? apakah hati ini masih layak diberi cobaan bertubi-tubi lagi?
Hanya saja aku berharap, Allah memberikan kesabaran berkali-kali lipat untuk ibuku.

Comments