Skip to main content

Get Well Soon, Dad!

Mungkin karena aku anak sulung yang selalu dimanjanya sehingga aku terlalu takut dengan hal ini.
Mungkin karena aku yang selalu bersamanya dibanding adikku yang lainnya, apapun itu alasannya aku tak peduli. Sabtu itu, 15 Oktober 2015 sekitar jam 16.00 aku dijemput oleh ibuku untuk mengajakku pulang, dengan alasan yang sama dia berkata kepadaku bahwa keadaan ayahku semakin tidak memungkinkan lagi.

Sesampainya dirumah, betapa terkejudnya aku ketika melihat keadaannya saat itu, laki-laki yang kukenal selalu tersenyum dan kuat itu, terbaring tak berdaya diatas kasur dengan badan tanpa daging lagi. Ingin rasanya aku yang berada diposisinya sekarang, dan  biarkan dia sehat dan tersenyum kembali.

Aku pun duduk disampingnya, dan dia berkata kepadaku,"tolong, bacakan ayat kursi untukku", aku pun segera membacakannya ketelinganya, setelah itu aku pun disuruh membacakan yaasin di telinganya sekali lagi, semua orang yang berada didalam rumahku itu pun ikut membacakan yaasin untuk ayahku.


Baru saja membaca setengah halaman, aku pun menangis tak kuat melihatnya kesakitan, berasa langkahku terhenti saat itu. Aku pun dipeluk dan tangisanku semakin kencang saat itu, yang aku takutkan aku tidak dapat melihatnya lagi untuk selamanya.

Menjelang magrib, semua tetangga dan saudara dari ayahku datang untuk menjenguknya, betapa sedihnya diriku saat itu, aku merasakan tidak ada keadilan didunia ini, aku bosan dengan semuanya, aku lelah.

Mengapa harus ayahku yang harus menderita duluan? mengapa harus aku yang merasakan semuanya? dan akhirnya terlintas dipikiranku, Apakah Allah itu adil dengan keluargaku?, aku pun langsung membuang pikiran itu, prasangka buruk itu langsung kubuang jauh-jauh. 

Aku teringat perkataan seseorang, bahwasanya orang yang baik tentu banyak cobaannya. Dan aku teringat sekali lagi, Allah tidak akan menguji suatu kaum melebihi dari kemampuannya. Dan aku teringat untuk sekian kalinya, Karena Sesungguhnya yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

Hari ini kulewati dengan ceria tanpa ada satu bebanpun kelihatannya, tapi bagaimana dengan hatiku yang sekarang? apakah hati ini masih layak diberi cobaan bertubi-tubi lagi?

Hanya saja aku berharap, Allah memberikan kesabaran berkali-kali lipat untuk ibuku. 

Comments

Popular posts from this blog

Asal Usul Pedamaran

Lebak Purun Pedamaran Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau. Salah satunya adalah pulau Sumatera. Di setiap Pulau terdapat banyak sekali nama-nama daerahnya. Dan disetiap daerah memiliki sejarah dan keunikan yang  berbeda-beda pula. Salah satu daerah yang memiliki sejarah dan keunikan yang belum dikenal oleh masyarakat adalah daerah Pedamaran. Pedamaran adalah salahsatu memiliki sejarah dan keunikan yang sangat menarik. Namun, hal ini tidak banyak diketahui oleh khalayak banyak. Menurut kutipan dari (Abief,2017 :1) mengatakan bahwa, “terbentuknya daerah Pedamaran berasal dari Meranjat karena terdapat banyak kesamaan pada bahasanya.”  Sejarah terbentuknya daerah Pedamaran adalah sebagai berikut. Pada zaman dahulu, saat orang-orang belum menduduki di wilayah tersebut untuk ditinggali, daerah ini awalnya adalah daerah yang penuh dengan hutan. Di daerah ini terdapat banyak pohon damar. Karena daerah ini merupakan penghasil damar terbanyak, jadi banyak p...

Dengan Segenap Hati

Hari yang pernah aku jalani ini, tak selamanya mengalir lancar bak sungai. Tak selamanya senada dengan apa yang Allah rencanakan. Aku....... Hanyalah seseorang yang tak pernah tau apa arti kehidupan yang sebenarnya. Hanya seorang gadis yang telah ditinggal ayahnya yang sangat dia cintai. Aku... Tak selamanya bisa menjadi orang yang selalu dipandang tinggi oleh kalian, aku hanyalah seorang yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Dengan segenap hati aku katakan, aku bukanlah orang yang sempurna didunia ini, aku juga bukanlah seorang yang selalu benar dalam kehidupanku. Aku adalah manusia biasa yang hanya mengadu pada diri-Nya. Hari demi hari kulewati di jeruji suci ini. Aku tak mengerti apa alasan ayah memaksaku masuk kedalam jeruji ini. Kulewati hari-hari bersama mereka yang sama sekali tidak pernah tau isi perasaan ini. Aku sempat berfikir untuk mengakhiri hidup ini, namun setelah sakaratul maut itu hampir menjemput disitulah aku baru sadar tentang arti kehidupan. Terima kasih at...

KELUARGA

        Harta terbesar yang aku miliki sekarang, tanpanya aku tidak bisa apa-apa lagi. Mereka yang rela mengorbankan waktunya untukku, mengorbankan tenaganya untukku, dan semua hanya untukku. Hari ini, aku mulai merindukan mereka lagi, ntah kapan akan bertemu kembali. Ingin rasanya, pergi dari penjara ini, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk aku menemui mereka. Aku pun tak mengerti semuanya mengapa aku harus berpisah dengan mereka, padahal aku masih punya waktu untuk mereka, dan aku menyia-nyiakannya.       Tuhan, lindungi mereka, jaga mereka, bahagiakanlah mereka. Tolong, panjangkanlah umur mereka, agar kelak mereka melihatku sukses dan akan membahagiakan mereka, aku janji. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, masih saja aku tidak bisa bersama mereka.