Kutulis beberapa kata ini hanya untuk ayahku tercinta. Aku sangat berterima kasih kepadamu, orang yang selalu menjagaku, merawatku saat aku sakit, serta selalu membuatku bahagia selama hidupku. Ayah, aku memang sedang merindukan dirimu, tapi rindu itu justru mengajarkanku banyak hal, aku lebih tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi.
Ayah, setahun yang lalu engkau pergi. Sebenarnya, hati ini masih belum percaya akan kepergianmu, aku disini dengan senyuman indahmu itu ayah. Aku tak mampu berkata sekarang, tak tau harus mengungkapkan apa lagi, intinya aku sangat merindukanmu dan sangat-sangat menyayangimu.
Ayah, apakah kau tau? anakmu sekarang sudah beranjak dewasa. Apakah kau tau ayah? anakmu, kesepian tanpa dirimu, apakah kau tau? tak akan ada manusia yang bisa menggantikanmu dihidup ini. Ayah, biar pun pengganti ayah dokter sekalipun tak akan pernah sama kasih sayang yang telah ayah berikan kepadaku.
Aku tak mampu mengungkapkan kata-kata manis didepanmu layaknya anak lainnya ayah, Apakah kau mengerti ayah? Aku hanya ingin bersama ayah, dan apakah kau tau ayah? Anak pertamamu ini, rindu akan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Ayah, kuharap engkau mengerti apa yang sedang aku ucapkan sekarang, dan kau tau ayah? permintaanku sekarang hanyalah, "engkau bisa hadir dalam mimpiku".
Andai saja engkau masih disini ayah, ini H-12 ulang tahunmu akan tiba ayah. Tidak terasa umurmu sudah 41 tahun ayah, betapa tuanya dirimu. Apakah kau tau ayah? seharusnya aku sudah melihat uban tumbuh dirambutmu, tapi aku tak sempat melihat itu. Tak apa ayah... Aku tak apa... asalkan ayah senang ditempat barumu.
Ayah, Apakah ayah ingat? betapa sering ayah menciumku, memelukku, bahkan tidur bersamaku meskipun aku sudah beranjak remaja sekalipun. Aku sempat menyesal tidak menciummu untuk terakhir kalinya, tapi setidaknya aku bahagia telah tidur untuk yang terakhir kalinya bersamamu meskipun tubuhmu sudah lemah tak berdaya lagi.
Aku tak akan pernah tau bagaimana perasaanmu saat melihatku hanya tidur bersama jenazah seorang ayahnya. Ayah... apakah kau tau? aku sedang menangis sekarang. Aku tak akan sanggup lagi menahan semua perasaanku ini ayah, Apakah kau tau? anakmu ini sedang kesepian sekarang, tak akan ada yang mampu mendengar curahan hati anakmu ini, dan aku pun tak akan pernah mampu mencurahkan hatiku ini kepada orang lain, bahkan ibu sekalipun.
Apakah ayah ingat? betapa sering aku tidur dibawah ketiak ayah? apakah kau ingat ayah? betapa sering aku tidur dipunggungmu? apakah kau ingat? betapa sering engkau menyuruhku untuk mencabuti kumismu? apakah ayah ingat ? betapa sering ayah menyuruhku untuk mencabuti rambut kakimu? apakah kau ingat sekarang? apakah kau ingat? ingat? ingat tidak ayah....
Aku bersyukur mempunyai ayah sepertimu, aku tak akan pernah menyesal mempunyai ayah sepertimu. Bagiku, kau adalah pahlawanku. Pahlawan dalam hidupku, pahlawan yang tidak akan pernah tergantikan, pahlawan yang selalu ada dalam hari-hariku, dan pahlawan yang selalu menjaga diriku.
Apakah ayah ingat? hanya aku anak ayah yang selalu mendapat perhatian lebih darimu, apakah ayah ingat? dulu, waktu aku tinggal bersama ayah, ayahlah orang yang selalu setia menemaniku saat aku sakit, aku ingat itu saat aku pulang dari sekolah dan ayah tidak menjemputku aku terpaksa pulang sendirian, saat itu tidak ada kendaraan yang lewat karena sedang hujan, aku terpaksa pulang dengan berjalan kaki menuju rumah, menaiki flyover, memasuki pasar, hingga benar-benar sampai kerumah.
Ayah merasa bersalah karena telah membuatku berjalan jauh, dan itu justru menjadi pengalaman berharga bagiku. Malam itu juga aku tidur bersama ayah, badanku ditutupi dengan selimut dan ayah mengonpresku dengan air panas sampai aku benar-benar tertidur pulas, aku tau ayah tak tidur saat itu, dan ayah orang yang pertama bangun untuk mencuci semua bajuku, ayah juga yang memasak makanan untukku, untuk bekal sekolahku.
Beberapa bulan berlalu, sampai saatnya ayah memutuskan untuk pulang. Kau tau ayah? tinggal digubuk orang itu tak enak ayah. Meskipun ku tau kau pernah merasakannya. Dan aku ingat, Pedamaran-Palembang itu jauh ayah, engkau menempuh jarak yang berkilo-kilo meter untuk menuju tempat kerjamu. Sekitar pukul 5 subuh engkau keluar dari rumah menuju Palembang untuk bekerja dan engkau tiba sekitar pukul 8, ayah langsung bekerja dan pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang ringan, aku tau itu butuh ketelitian dan jarak yang jauh untuk mendapatkan hasil yang baik. Dan pekerjaanmu itu selesai pukul 8-9 malam, engkau langsung pulang ke Pedamaran dan tiba sekitar pukul 11 malam, hal ini selalu terulang. Sampai akhirnya, ayah masuk rumah sakit karena tifus.
3 tahun berlalu penyakit itu menyerangmu bahkan berdatangan penyakit yang lainnya dan semenjak itu ayah sering sakit-sakitan dan pada akhirnya ajal itu datang menjemputmu.
Terima kasih untuk semuanya sayang,
Aku akan tetap mencintaimu,..
Anakmu,
Shahnaz Ajeng Fatimah Az-Zahrah
Comments