Bagas, seorang
mahasiswa abadi di bangku perkuliahan karena terlalu sibuk dalam kegiatan
organisasi di kampusnya harus menggarap skripsi lebih cepat untuk memakai toga
di hari wisudanya demi menepati janji kepada (alm) sang ayah. Bagas mempunyai teman bernama Anisa yang juga
merupakan patner kerja saat beorganisasi di kampus dulu, saat ini Anisa sudah
berkerja sebagai aktivis gender di Jakarta. Sebenarnya, Bagas dan Anisa sudah
lama tidak berkomunikasi lagi, namun kehendak Tuhan berbeda, mereka berdua pun di
pertemukan kembali saat Anisa menulis ucapan turut berduka atas meninggalnya
ayah Bagas di messenge facebook milik
Bagas. Anisa juga memberikan Bagas ide untuk menggarap skipsinya di Wakatobi,
tanah kelahiran Anisa.
Anisa juga yang memandu
Bagas dalam penelitiannya di Wakatobi tentang Komunitas nelayan Bajo di
Wakatobi, sekaligus untuk mengambil cuti panjang dengan alasan Anisa merindukan
kedua orang tuanya yang sudah lama tidak bertemu. Namun, keinginan Anisa untuk
cuti panjang pun harus berhenti ditempat karena dia tidak setuju untuk dijodohkan
oleh ayahnya dengan pengusaha asal Wakatobi yang benama Zubair Abdullah.
Sebagai gantinya, Anisa
menyuruh Wa Dambe ( saudara angkatnya) untuk membantu Bagas dalam menggarap
skripsinya. Wa Dambe lah yang membantu Bagas dalam penelitiannya, mulai dari
transportasi, menerjemah bahasa Bajo ke bahasa Indonesia dalam kegiatan
wawancara yang dilakukan oleh Bagas. Wa Dambe sangat baik kepada Bagas, tak
sedikit pun ada kata mengeluh dari bibirnya walaupun harus bolak-balik dari
Sampela ke Kaledupa, hal ini dilakukannya dengan sangat ikhlas karena
menurutnya menemani Bagas merupakan kewajiban yang harus dipenuhinya untuk
menjaga teman adik angkatnya, Anisa.
Tak disangka,
disela-sela penelitiannya saat Bagas keluar dari kamarnya dia sedang
memperhatikan Wa Dambe sedang melihat foto Anisa yang terpajang di berita
Nasional, terkejudnya lagi Bagas mengetahui bahwa Wa Dambe tidak bisa membaca
dan menulis maka dari itu dia hanya melihat foto Anisa saja. Mendengar hal itu,
rasa iba pun muncul dari diri Bagas, dia sangat kasihan dengan Wa Dambe.
Sebagai ucapan terima kasih Bagas dia menawarkan Wa Dambe untuk belajar menulis
dan membaca, namun Wa Dambe menolak hal ini. Dengan bujukan-bujukan yang di
lanturkan Bagas, akhirnya Wa Dambe pun mau menerima tawaran Bagas untuk
mengajarinya menulis dan membaca.
Dengan tekun Wa Dambe
belajar, kegigihannya untuk bisa pun sangat besar. Sampai akhirnya ia pun bisa
menulis dan membaca, bahkan dengan kemuliaan hatinya dia pun ikhas mengajarkan
ilmunya kepada perempuan-perempuan Bajo yang juga senasib dengannya.
Momen-momen yang indah ini sangat berarti bagi Bagas, dia mengabadikan
foto-foto Wa Dambe dan diikutkan pada kontes fotografi.
Mengetahui hal itu,
Anisa marah karena dia menganggap Bagas mengeksploitasi Wa Dambe, Anisa takut
karirnya sebagai aktivis gender hancur dan akan mendapat kecaman dari publik
karena dia yang memberdayaan perempuan, dia pula yang mempunyai saudara angkat
yang buta aksara. Dari sinilah persahabatan mereka hancur, dan Bagas mengatakan
kepada Anisa bahwa dia mencintai saudara angkatnya semenjak melihat sorotan
mata Wa Dambe yang memberikan getaran khusus pada hatinya.
Setelah beberapa minggu
di Bogor, Bagas pun pulang ke Wakatobi untuk menemui Wa Dambe. Betapa
terkejudnya Bagas ketika melihat Wa Dambe sedang dihakimi oleh massa karena
dinyatakan bahwa dia hamil. Dilihatnya Wa Dambe yang sedang berputus asa dan
tidak mau menceritakan siapa yang telah menghamili dia. Wa Dambe hanya
mengurung dirinya di kamar dan masih belum ingin bercerita tentang ayah yang
ada dikandungannya. Kemudian beberapa hari setelah beberapa waktu, akhirnya Wa
Dambe pun bercerita bahwa Zubairlah yang telah mengperkosa dia saat semua orang
sedang mengadakan rapat di Balai Desa.
Bagas pun marah, dia
mencari Zubair di tempat kediamannya. Namun hal yang dilakukan Bagas sia-sia
Zubair telah melarikan dirinya ke Singapura. Bagas pun mencari Zubair
kemana-mana, namun saat berada di Bandara Hassanudin terdengar berita bahwa ada
penikaman di sebuah diskotik Makassar yang menewaskan salah satu pengusaha asal
Wakatobi bernama Zubair Abdullah. Dengan berat hati, Bagas pun kembali ke rumah
Anisa dan menceritakan semuanya. Wa Dambe yang mendengar hal itu langsung
terpukul dan kembali kekamarnya.
Keesokan harinya, Ibu
Anisa tidak mendapati Wa Dambe di rumah. Wa Dambe pergi ke rumah nenek Wa Tanihi
untuk mencurahkan isi hatinya. Bagas pun datang, tak disangka Wa Dambe sedang
menyangkutkan tali di lehernya. Tanpa pikir panjang Bagas pun mengatakan bahwa
dia siap untuk menjadi ayah dari anak yang dikandung oleh Wa Dambe. Awalnya, Wa
Dambe tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, dengan penuh harap Bagas
pun meyakinkan Wa Dambe tentang hal itu. Akhirnya, Bagas dan Wa Dambe pun
menikah. Mereka tinggal dirumah nenek Wa Tanihi.
Bagas pun kembali ke
Bogor untuk menyelesaikan skripsinya, dan dia berjanji kepada Wa Dambe untuk
kembali lagi ke Wakatobi. Diberikannya Wa Dambe sebuah handphone untuk bisa menghubungi Bagas, setiap minggu Bagas selalu
mengirimkan bahan bacaan yang akan diberikan ke Wa Dambe untuk menambah
wawasannya dan untuk disampaikan kepada perempuan-perempuan Bajo lainnya.
Setelah beberapa bulan
menyelesaikan skripsinya dan menunggu hari wisudanya, Bagas kembali ke rumah
nenek Wa Tanihi untuk menemui Wa Dambe dan mengajaknya ke Bogor untuk menemui
keluarganya. Betapa terkejudnya Bagas ketika melihat orang-orang ramai di rumah
nenek Wa Tanihi, dikabarkan pula oleh ibu Anisa bahwa Wa Dambe meninggal saat
sedang melahirkan anak perempuannya. Betapa terpukulnya Bagas saat itu.
Dihari wisudanya, Bagas
hanya bisa meratapi nasib dirinya. Dihari yang spesial itu, dua orang yang
sangat dia sayangi pergi dan tidak bisa hadir di hari wisudanya. Setelah
semuanya berakhir, Bagas kembali lagi ke Wakatobi untuk merawat anaknya. Bagas
memberi nama anaknya dengan nama Wa Katobi. Namun, ditengah-tengah kebahagiaan
dirinya setelah mendapat gelar sarjana, Bagas diberi tahu oleh ibu Anisa bahwa
Wa Dambe sedang demam, dengan khawatir Bagas membawa Wa Katobi ke puskesmas
yang cukup jauh dari rumahnya.
Disepanjang malam Wa Katobi tak henti-hentinya
dia menangis. Bagas pun kewalahan menghadapinya. Tak disangka, dia pun bertemu
kembali dengan Anisa yang ternyata telah mengudurkan dirinya menjadi aktivis
gender di Jakarta untuk membangun Wakatobi, tanah kelahirannya. Dilihatnya
Bagas yang sedang kebingungan melihat anaknya yang sedang menangis, Anisa pun
mendekati Bagas dan menawarkan dirinya untuk menggendong anaknya dan memberi
dot karena sepertinya Wa Katobi sedang kehausan. Bagas pun melihat ada jiwa
keibuan di dalam diri Anisa, dan dia pun melamar Anisa dan menjadikan Anisa istinya.
Kata-kata mutiara dari
Novel :
“Perempuan mana pun di dunia ini, bila
dipilihkan, pasti tak akan ada yang memilih untuk melakoni hidup menjadi Wa
Dambe”.
“Dunia adalah puzzle raksasa yang belum disatukan. Mencoba menemukan potongan
lain dari teka-teki hidup, seperti gejolak percintaan di Wakatobi”.
Kata-kata mutiara yang dibuat :
“Tak ada batasan ‘usia’ dalam
menuntut ilmu”.
“Perempuan yang kuat, lahir dari
keluarga yang kuat”.
“Jangan jadikan daerah tertinggal
sebagai alasan untuk tidak menuntut ilmu”.
Comments