Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

AYAH

Satu-satunya lelaki yang tidak akan pernah menyakiti hati ini. Satu-satunya lelaki yang mengerti apa arti kehidupan yang suci. Lelaki yang rela menghabiskan waktu demi mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Rela menghabiskan uangnya demi menyekolahkan anak-anaknya, karena baginya anak adalah segalanya. Lelaki yang selalu ada saat kita sendiri. Yang selalu ada saat kita bersedih. Yang pertama dan utama dalam hidup ini. Namun, hari itu pun tiba, tiba dimana masanya dia pergi meninggalkan semuanyaa, meninggalkan janji suci , janji untuk selalu menemani diri ini. Kulihat langit yang tak begitu cerah malam itu, kulirik semua bagian sudut dalam rumah ini. Aku memikirkan sesuatu, yang sebelumnya sempat aku pikirkan dahulu. Bagaimana nasib ini? siapa yang akan mencarikan sekolah terbaik diseluruh penjuru dunia ini? siapa yang akan menyemangati diri ini? hanya diri sendiri yang harus bisa mempersiapkan semuanya. Kutatap langit tak berbintang itu, seolah meratapi musibah terbesar ...

Selamat Jalan, Sayang

Malam ini, malam ke-9 engkau pergi meninggalkanku. Deraian air mata pun mengalir dipipi ini, seolah tidak ingin kehilangan dirimu. Kutabur bunga nan indah diatas tempat tinggal keduamu. Kenangan yang dulu pernah kita buat bersama pun tak akan mungkin bisa aku lupakan. Air mata ini tak mampu menahan perihnya kehilangan dirimu. Lalu, pada siapakah aku mengadu? mengadu tentang sakit hati ini. Siapa yang akan menggantikan motivator terhebat sepertimu? siapa lagi kalau bukan dirimu?. Aku mengerti sekarang, semuanya hanyalah bayangan yang setiap harinya akan menghantui diri ini. Bintang dilangit pun menjadi bukti betapa takutnya aku kehilangan dirimu, namun malam itu takdir berkata lain, kita pun dipisahkan untuk selamanya. Bukan karena kita berbeda kota, berbeda tempat tinggal, tapi karena sekarang kita berbeda dunia. Ingin rasanya diri ini memelukmu kembali, namun apadaya semuanya sudah terlambat untuk disesali.  Senyuman manis itu pun tidak akan pernah bisa aku ...

Get Well Soon, Dad!

Mungkin karena aku anak sulung yang selalu dimanjanya sehingga aku terlalu takut dengan hal ini. Mungkin karena aku yang selalu bersamanya dibanding adikku yang lainnya, apapun itu alasannya aku tak peduli. Sabtu itu, 15 Oktober 2015 sekitar jam 16.00 aku dijemput oleh ibuku untuk mengajakku pulang, dengan alasan yang sama dia berkata kepadaku bahwa keadaan ayahku semakin tidak memungkinkan lagi. Sesampainya dirumah, betapa terkejudnya aku ketika melihat keadaannya saat itu, laki-laki yang kukenal selalu tersenyum dan kuat itu, terbaring tak berdaya diatas kasur dengan badan tanpa daging lagi. Ingin rasanya aku yang berada diposisinya sekarang, dan  biarkan dia sehat dan tersenyum kembali. Aku pun duduk disampingnya, dan dia berkata kepadaku,"tolong, bacakan ayat kursi untukku", aku pun segera membacakannya ketelinganya, setelah itu aku pun disuruh membacakan yaasin di telinganya sekali lagi, semua orang yang berada didalam rumahku itu pun ikut membacakan ...